Dalam membesarkan anak-anak di dunia yang berkembang dengan cepat seperti sekarang ini, para orang tua sebaiknya dipersenjatai dengan beragam teknik dan pengetahuan (juga kesabaran!). Selain mengelola waktu penggunaan perangkat digital oleh anak-anak — yang telah diketahui dapat menstimulasi pikirannya yang masih berkembang secara berlebihan hingga mencapai taraf yang tidak sehat — ada beberapa topik lain yang sebaiknya Anda mulai bicarakan dengan anak demi membangun fondasi komunikasi dan keterbukaan yang kokoh.

Berikut ini beberapa topik penting yang bisa mulai Anda sampaikan kepada anak dan membangun fondasi yang kokoh sejak dini.

1. Kekecewaan dan Kegagalan

Sekalipun telah berusaha sebaik mungkin, kita semua pernah mengalami kegagalan dan merasakan kekecewaan. Anak-anak kita pun akan mengalaminya, karena interaksi sosial dan tanggung jawabnya sewaktu-waktu tentu akan disertai dengan kegagalan serta kekecewaan.  

Walaupun Anda mungkin tergoda untuk melindungi anak secara emosional, serta menghindarkannya dari rasa sakit atau situasi yang menyakitkan, orang tua sebaiknya mengambil peran sebagai pemandu, bukan “penyelamat”. Orang tua tidak mungkin bisa hadir setiap saat anak merasa diabaikan atau ketinggalan menyelesaikan tugas, jadi langkah terbaiknya adalah melengkapi anak dengan kemampuan yang dibutuhkan untuk mengatasi rintangan.

Dengan demikian, saat anak Anda pulang ke rumah dalam keadaan menangis karena anak-anak lain tidak mau bermain bersamanya, Anda bisa bertanya “Bagaimana perasaanmu saat tidak diajak bermain oleh mereka?”. Lanjutkan dengan pembicaraan mengenai cara agar dia mengubah situasi ini di kemudian hari.

Tips Khusus: Hindari menolak ide-ide anehnya, atau Anda akan menghambat perkembangan kemampuan kreatif anak dalam memecahkan masalah! Sebaiknya, jika anak menawarkan solusi yang tidak memungkinkan, katakan “Ya, itu salah satu pilihannya. Apa lagi yang bisa kamu lakukan?”. Anak-anak usia prasekolah (usia 3-6 tahun) mungkin perlu diberikan pertanyaan seperti “Apakah kamu mau memulai permainan sendiri nanti bersama teman-teman? Apakah petak umpet atau gobak sodor?” untuk mendorong Anak belajar mengeluarkan ide-ide yang ada di pikirannya.

Mengasihi diri sendiri adalah karakteristik penting yang juga perlu diajarkan kepada anak-anak sejak dini. Alih-alih mendasarkan harga diri pada pencapaian akademik, penampilan, atau popularitas, anak-anak harus mampu menghargai dirinya sendiri hanya atas dasar fakta bahwa mereka adalah manusia, dan menerima bahwa kegagalan adalah bagian dari pengalaman manusia.

Penelitian menemukan bahwa mereka yang mengasihi diri sendiri dapat pulih lebih cepat dari kegagalan, dan lebih berpeluang mencoba hal-hal baru — terutama karena mengetahui bahwa mereka tidak akan terbebani dengan ucapan diri sendiri (self-talk) yang negatif jika gagal.


2. Seks dan Perubahan Tubuh

Walaupun membicarakan tentang seksualitas kepada anak-anak mungkin menegangkan, hal ini adalah topik penting yang paling baik diketahui di lingkungan rumah yang aman. Kehidupan sehari-hari memberikan banyak peluang untuk membicarakan tentang seksualitas. Saat menonton TV yang menunjukkan adegan remaja memasuki masa puber atau berkencan, melihat iklan yang mendorong penerimaan tubuh sendiri, atau bertemu dengan tetangga yang sedang hamil, kita bisa memanfaatkan semuanya untuk mengawali pembicaraan dengan anak.

Peristiwa yang dapat diambil pelajaran seperti ini terjadi setiap hari, dan dapat membuat pembicaraan Anda mengalir lebih alami dan lancar.

Selain membicarakan tentang hal yang mungkin dihadapi oleh anak di masa depan, mengajarkan nilai-nilai menghargai privasi diri dan orang lain juga sangatlah penting. Anak dapat memahami kebutuhan “waktu pribadi” sesekali, dan dia sebaiknya juga mengerti bahwa dia harus mengetuk pintu yang tertutup saat ingin masuk ke kamar Anda. Pastikan juga untuk melakukan hal yang sama saat anak Anda menutup pintu kamarnya.

Menekankan kepada anak usia sekolah dasar bahwa bagian tubuh pribadi bersifat pribadi juga penting. Anak-anak berusia 6 tahun tidak jarang — juga bukanlah sesuatu yang erotis — bereksperimen dengan bermain “dokter-dokteran”, jadi tidak perlu menghukumnya jika Anda memergokinya.

Namun, dia dapat diajarkan bahwa tidak ada orang lain yang boleh menyentuhnya di bagian tersebut terkecuali orang tua, atau dokter, dan bahwa dia harus menolak siapa pun yang mencoba menyentuh bagian tubuh pribadinya secara paksa.

3. Perencanaan Keuangan

Hal pertama yang harus dipelajari anak-anak adalah bahwa uang memiliki nilai, dan jika dibelanjakan, uang akan habis. Saat berbelanja bersama anak-anak berusia muda, Anda dianjurkan untuk selalu menggunakan uang tunai daripada kartu kredit atau kartu debit.

Uang tunai dapat dilihat dengan jelas dan tidak membingungkan, sementara kartu kredit memberi kesan yang kontradiktif kepada anak-anak. Jika tidak, anak-anak mungkin akan kesulitan memahami konsep pembelanjaan uang, dan meyakini bahwa kartu ajaib dapat memberikan segala yang Anda inginkan.

Kebiasan menabung dapat dipupuk dengan lebih efektif jika anak-anak dapat menyaksikan dan mengamati pertambahan jumlah tabungan mereka. Sebagian orang tua memanfaatkan stoples bening, dan bukan celengan karena anak-anak berusia muda mungkin merasa bahwa uangnya “hilang” jika tidak dapat terlihat.

Cara lainnya adalah mendorong anak-anak menyamai jumlah tabungannya. Jika anak diberi uang tabungan Rp 10.000 dalam sehari, Anda juga bisa mendorongnya menyisihkan uang dalam jumlah yang sama untuk ditabung. Selain memberikan dorongan atas usahanya, cara ini juga dapat membantu membiasakan menabung dan menyisihkan uang demi tujuan keuangannya di masa depan.

Setelah anak Anda mampu menyimpan uang dalam stoples atau celengan dengan baik, orang tua dapat memperkenalkan empat tujuan untuk menyampaikan pentingnya menabung demi manfaat yang berbeda. Untuk itu, anak bisa memisahkan tabungannya ke dalam empat kotak, yaitu:

  1. Simpanan belanja untuk segera digunakan,

  2. Simpanan untuk digunakan kemudian hari,

  3. Simpanan investasi untuk dikembangkan (gunakan kesempatan ini untuk membuka rekening bank atas nama anak, memperbarui buku rekeningnya, dan mengajarkan mengenai bunga bank, deposito, dan pinjaman),

  4. Simpanan untuk berdonasi membantu orang lain.

Praktik “menyimpan, berinvestasi, beramal, dan membelanjakan sebagian uang” tidak hanya memberikan kesempatan bagi anak untuk mengelola uang dengan baik, namun juga mengajarkan mereka untuk memandang melampaui kebutuhannya dan membantu mereka yang kurang beruntung.

Topik-topik di atas adalah pelajaran penting yang dapat melengkapi diri anak dengan kemampuan melewati tantangan, serta membentuk pola pikir yang membangun untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah yang mungkin dihadapinya. Kunjungi situs web kami untuk mengetahui cara lain dalam mempersiapkan biaya besar bagi Anda dan anak di masa depan melalui perencanaan yang hati-hati dan investasi secara sistematis.

 

Tautan ke situs web eksternal ke Grup Asuransi Tokio Marine disediakan untuk kenyamanan dan informasi bagi Anda. Akan tetapi, kami tidak memberikan jaminan atau pernyataan (baik secara tegas, tersirat, undang-undang atau sebaliknya) terhadap akurasi atau kesesuaian pada konten tersebut karena konten ini tidak diubah atau diperbaharui oleh kami. Kami tidak mengesahkan produk atau jasa yang terdapat pada situs ini ataupun menyiratkan bahwa produk, jasa atau kegiatan yang ada di situs ini adalah selalu tercakup tercakup di dalam polis kami. Untuk informasi lebih lanjut mengenai produk kami, silahkan mengunjungi informasi produk kami atau hubungi kami.