Walaupun faktor utama dalam membentuk wirausahawan mungkin merupakan kombinasi antara sifat bawaan dan pengasuhan, ada beberapa cara untuk mengawali pembentukan pola pikir utama yang dimiliki oleh banyak pengusaha sukses.

Berikut ini beberapa tips bermanfaat yang mungkin dapat membantu membentuk balita Anda  lekas dewasa dan menjadi pengusaha sukses di kemudian hari. 

1. Ajarkan Teknik Pemecahan Masalah yang Efektif

Anak-anak usia berapa pun akan menghadapi permasalahan dalam kehidupan sehari-harinya. Walaupun Anda mungkin menahan tawa melihat masalah anak yang tampak remeh, namun masalah ini harus dihadapi dan diatasi oleh anak-anak sendiri agar mereka dapat berkembang lebih matang lagi.

Jika anak mendekati Anda dengan membawa masalah yang tampak seperti jalan buntu baginya, perhatikan dan hormati dia, kemudian cari tahu lebih dalam mengenai masalah tersebut. Alih-alih memberikan solusi secara langsung, dorong dia agar membiasakan berdiskusi dan bersama-sama mempertimbangkan solusi atas masalah tersebut.

Bantu anak untuk mengenali masalah, dan tanyakan apa yang dianggapnya sebagai solusi yang tepat. Dorong dia untuk mempertimbangkan kekurangan dan kelebihan dari solusinya secara rasional dan objektif serta memilih langkah terbaik di akhir diskusi.

CATATAN: Sadari isyarat tak terucap Anda yang mungkin terbaca oleh anak hingga membuatnya mengambil keputusan. Kondisi idealnya adalah menciptakan lingkungan yang memungkinkan orang tua berperan hanya sebagai pendengar, dengan demikian, anak dapat mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas keputusan tersebut secara mandiri.

2. Dorong Anak untuk Bekerja Sama

Saat anak telah mencapai usia yang cukup, dorong dia untuk bergabung dengan komunitas atau tim olahraga maupun klub hobi tertentu yang membuatnya harus bekerja sama dengan tim sebayanya.

Olahraga terutama, dapat berfungsi sebagai wadah untuk melatih nilai-nilai wirausaha.  Anak-anak yang tergabung dalam tim olahraga harus belajar mengatasi ketertinggalan dan rasa kecewa dalam kekalahan. Posisi sebagai pemimpin atau penggerak tim juga dapat membantu anak mempelajari kepemimpinan dan menginspirasi orang lain,  sekaligus berperan secara aktif dalam keberhasilan tim.

Kerja sama tim dan kekalahan atau ketertinggalan adalah pelajaran berharga dalam dunia wirausaha untuk menanamkan nilai-nilai etika kerja sama tim yang bagus dalam diri anak. 

3. Motivasi Anak untuk Membantu Pekerjaan Rumah Tangga dengan Memberikan Hadiah

Di dunia yang dipenuhi gratifikasi instan saat ini, beberapa anak mungkin enggan bekerja untuk mendapatkan sesuatu. Situasi atau kondisi seperti ini diketahui dapat memicu rengekan dan tangisan, disertai tatapan mata penuh harap yang bertujuan untuk memicu respons empati yang positif dari orang tuanya.

Jangan menyerah! Anda mungkin tergoda menghindarkan anak dari pekerjaan sehari-hari yang memakan waktu. Namun, selain tidak memberikan kesempatan anak untuk mengembangkan kemampuan teknisnya, hal ini juga akan menjauhkannya dari pemahaman bahwa untuk membuat semuanya berjalan lancar, seseorang harus berusaha atau bekerja.

Misalnya, mintalah anak yang berjiwa teknis untuk mengatur kabel atau mengisi daya perangkat elektronik keluarga. Jika Anda harus mengatur kabel-kabel dalam satu hari, mintalah anak untuk merekatkan label kertas pada kedua ujung kabel yang berantakan  menggunakan selotip.

CATATAN: Ingatlah untuk melepaskan semua perangkat dari saluran listrik sebelum anak Anda mendekatinya! Ajari dan tekankan juga pentingnya langkah ini kepada anak, sehingga dia tidak perlu ragu atau takut menyentuh perangkat elektronik.

Setelah perangkat dimatikan dan aman serta terlepas dari saluran listrik, mintalah anak Anda melabeli seluruh kabelnya, dan dampingi mereka saat melepaskan rangkaiannya. Rapikan kekusutan kabel dan periksa beberapa kabel yang tidak benar-benar terpasang atau tidak berguna!

Tugas merangkai kabel kembali adalah kesempatan berharga untuk menguatkan pola pikir spasial dan logis dengan mencari jalur yang paling tepat untuk seluruh kabel yang berbeda.

Rangsang usaha keras mereka dengan memberikan camilan lebih banyak setelah makan malam, atau izin untuk tidur 15 menit lebih lama daripada biasanya (hadiah yang sangat berharga bagi anak-anak yang ingin tidur larut malam seperti Ayah dan Ibunya!).

4. Jangan Abaikan Pertanyaan “Kenapa”

Anda mungkin tergoda mengabaikan beribu pertanyaan yang muncul di saat anak merasa kebingungan, ingin tahu, ataupun sekadar bosan. Walaupun Anda mungkin merasa nyaman menikmati ketenangan dan kedamaian sesaat setelah mengatakan “Karena memang seperti itu. Jangan tanya kenapa lagi!”, berusahalah untuk menghindari pernyataan tersebut.

Untuk merangsang pola pikir wirausaha, berikan motivasi kepada anak untuk berpikir lebih jauh, mengajukan pertanyaan “kenapa”, dan mencari jawaban atas pertanyaannya tanpa kenal lelah. Sebagai contoh, bawalah sebuah alat dan tunjukkan kepada anak tanpa menjelaskan cara kerja maupun kegunaannya. Motivasi anak untuk memainkan alat tersebut dan mencari tahu sendiri. Jika dia menyerah dan bosan, mungkin Anda bisa memberikan komponen petunjuk sebagai hadiah untuk merangsangnya terus berusaha.

Setelah beberapa saat, anak-anak akan terbiasa berpikir mandiri dan mencari tahu sendiri sehingga tidak lagi sekadar menunggu disuapi solusi atas masalahnya.  

5. Jangan Menghindari Pembicaraan tentang Uang

Hal yang terakhir namun tidak kalah pentingnya adalah membicarakan mengenai uang secara terbuka. Dalam sebagian besar keluarga, anak-anak dijauhkan dari pembicaraan mengenai uang, dan hanya diajarkan mengenai konsep mengenai kekurangan atau kesulitan.

Dalam situasi seperti ini, anak-anak akan mengasosiasikan uang dengan rasa cemas sehingga menjadi topik yang menakutkan baginya. Jika ingin membesarkan anak sehingga dia bisa mengambil risiko dengan cerdas saat dewasa, hindarkan memasukkan mereka ke dalam situasi yang dipenuhi rasa cemas. Dalam situasi seperti itu, anak-anak akan kehilangan kemampuan mengatur anggaran, bernegosiasi, atau memegang kendali atas kondisi keuangannya.

Untuk membicarakan topik yang sensitif ini secara positif, Ayah dan Ibu bisa menceritakan beberapa berita yang berhubungan dengan keuangan keluarga. Sebagai contohnya, membicarakan tentang gaji yang dibayarkan atas pekerjaan yang dilakukan. Perluas pembahasan mengenai hal ini dan ceritakan bagaimana penghasilan yang diperoleh memenuhi kebutuhan dan pengeluaran keluarga (makanan, cicilan rumah, biaya study-tour, uang saku, dll).  

Libatkan anak dalam “rapat bisnis keluarga” yang membicarakan mengenai pengeluaran dan kewajiban keuangan yang harus dibayarkan keluarga bersama-sama, dengan memprioritaskan pada kebutuhan dan keingan keuangan masing-masing anggota keluarga.

Dengan cara ini, anak-anak akan terdorong berpartisipasi aktif dalam keputusan ekonomi, bukan sekadar menjadi objek pasif dari keputusan orang tuanya.

Selain bermanfaat membentuk jiwa wirausaha pada anak-anak, langkah-langkah di atas juga mungkin berguna bagi orang tua yang ingin menanamkan fondasi “usaha vs hadiah” yang kokoh. Untuk mengetahui tips lain dalam membentuk pola pikir anak-anak, simak artikel lima frasa yang sebaiknya tidak Anda sampaikan kepada anak-anak.

Tautan ke situs web eksternal ke Grup Asuransi Tokio Marine disediakan untuk kenyamanan dan informasi bagi Anda. Akan tetapi, kami tidak memberikan jaminan atau pernyataan (baik secara tegas, tersirat, undang-undang atau sebaliknya) terhadap akurasi atau kesesuaian pada konten tersebut karena konten ini tidak diubah atau diperbaharui oleh kami. Kami tidak mengesahkan produk atau jasa yang terdapat pada situs ini ataupun menyiratkan bahwa produk, jasa atau kegiatan yang ada di situs ini adalah selalu tercakup tercakup di dalam polis kami. Untuk informasi lebih lanjut mengenai produk kami, silahkan mengunjungi informasi produk kami atau hubungi kami.